Menengok Kinerja Bank Digital RI, Euforia Berakhir?

Ilustrasi Mobile Banking (Pixabay)

Di tengah kondisi makroekonomi yang masih dipenuhi ketidakpastian, inflasi, tren suku bunga, dan konflik geopolitik, industri perbankan diperkirakan masih akan mencatat kinerja positif walaupun mengalami pelambatan pada 2023.

Namun sayangnya euforia untuk beberapa emiten perbankan terutama bank digital sudah tidak seindah tahun 2021 yang dimana harga saham bank-bank digital melambung tinggi hingga naik menyentuh ribuan persen.

Melihat performanya selama satu tahun terakhir, kini saham bank-bank digital mulai turun bahkan bisa dibilang mulai ditinggalkan para investornya dengan trend penurunan harga saham yang cukup tajam.

Laporan keuangan kuartal I 2023 telah dirilis oleh para emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia termasuk para emiten bank digital.

Melihat hasil laporan keuangan pada kuartal I 2023 bahwa rata-rata kinerjanya menurun.

Salah satu bank digital terbaik di Indonesia 2023 adalah Bank Jago. Namun performa labanya harus turun 8%. Penurunan laba ARTO tersebut seiring dengan meningkatnya angka kerugian nilai aset keuangan atau impairment yang meroket 123% menjadi Rp133,48 miliar dari posisi sebelumnya Rp59,87 miliar.

Selain itu, hingga Maret 2023 beban operasional ARTO juga tercatat mengalami peningkatan mencapai Rp407,77 miliar atau meningkat 39 persen secara tahunan.

Penurunan performa kinerja juga terlihat pada BANK. Tercermin dari rugi bersih Bank Aladin yang mencapai Rp46,17 miliar. Mengutip laporan keuangan Bank Aladin nilai ini meningkat 4,98% secara tahunan dari rugi bersih kuartal I 2022 yang mencapai Rp43,98 miliar.

Hal ini terjadi karena lonjakan beban tenaga kerja yang naik 57,74% secara tahunan dari Rp29,51 miliar menjadi Rp46,55 miliar per kuartal I 2023. Selain itu, beban promosi juga melesat 192,70% secara tahunan dari Rp4,52 miliar pada tahun sebelumnya menjadi Rp13,23 miliar pada kuartal I 2023.

Beban operasional BANK membengkak 80,60% menjadi Rp98,52 miliar, dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp54,55 miliar.

AGRO juga menunjukkan penurunan kinerja dengan laba yang anjlok hingga 90,8%. AGRO membukukan laba bersih Rp4,37 miliar pada kuartal I 2023, turun jauh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp47,71 miliar.

Turunnya laba AGRO terjadi di tengah terpuruknya pemberian kredit dan peningkatan beban.

Sedangkan untuk BBYB tercatat masih membukukan kerugian meski kerugiannya menurun. Rugi bersih yang terus menyusut 83,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp68,4 miliar.

Perbaikan kinerja BBYB tersebut salah satunya didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang melesat 249 persen menjadi Rp691,6 miliar dari posisi pada periode yang sama di tahun sebelumnya Rp197,92 miliar. Seiring dengan tren positif pada sisi bottom line, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank juga tercatat meroket 842 basis poin (bps) menjadi 16,14 persen dari 7,72 persen pada kuartal I/2022.

Di samping itu, BBYB diketahui makin efisien, terlihat dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang berhasil dipangkas 8.560 bps menjadi 106,74 persen dari 192,34 persen.

Perseroan juga mencatatkan portofolio kredit melesat 127,02 persen secara yoy mencapai Rp10,91 triliun dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp4,81 triliun.

Berbeda dengan empat bank digital diatas, BBHI justru berhasil meningkatkan performa kinerja pada kuartal I 2023 dengan peningkatan laba.

BBHI mencatatkan laba bersih sepanjang tiga bulan pertama 2023 tumbuh 21% secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai Rp90,49 miliar dari posisi sebelumnya Rp75 miliar.

Salah satu penopang laba BBHI tumbuh yakni BBHI mencatatkan pendapatan bunga melesat 204% secara tahunan menjadi Rp313,63 miliar pada kuartal I 2023 dari Rp103,3 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

BBHI juga mencatatkan beban bunga meningkat 241% menjadi Rp76,55 miliar. Meskipun demikian, pendapatan bunga bersih bank tercatat tetap menebal 193% menjadi Rp237,08 miliar dibandingkan dengan kuartal I 2022 Rp80,83 miliar.

Selain itu, angka kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) Allobank juga susut 70% menjadi Rp3,94 miliar hingga Maret 2023, dari Rp13,21 miliar pada akhir Maret 2022 lalu.

Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BBHI tumbuh menjadi 8,22% pada kuartal I 2023, angka tersebut melesat 427 bps dibandingkan dengan periode sebelumnya yakni 3,95%. Kemudian, rasio imbal balik ekuitas (return on equity/ROE) bank tumbuh 72 basis poin (bps) menjadi 5,65%. Namun, rasio imbal balik aset (return on asset/ROA) BBHI susut 61 bps menjadi 3,83%.

Dari sisi intermediasi, portofolio kredit bank berada pada posisi terjaga di level Rp7,16 triliun meskipun turun tipis 1% dibandingkan tahun lalu Rp7,2 triliun.

Total aset bank sepanjang tahun berjalan mencapai Rp12,07 triliun. pertumbuhan aset tersebut diikuti oleh perbaikan kualitas yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) secara gross turun 19 bps menjadi 0,05% dan NPL net turun 10 bps menjadi 0,03%.

Sementara dari sisi pendanaan, himpunan dana pihak ketiga (DPK) bank terpantau tumbuh 84% secara yoy menjadi Rp5,12 triliun dari posisi sebelumnya Rp2,78 triliun.

Pertumbuhan DPK utamanya disokong oleh himpunan simpanan tabungan yang melesat 117% menjadi Rp336,89 miliar pada kuartal I 2023. Kemudian, deposito bank tumbuh 93% menjadi Rp4,74 triliun, sedangkan giro susut 76% menjadi Rp41,46 miliar.

Prospek Bank Digital 2023

Penurunan saham bank digital sebagai dampak negatif tren kenaikan suku bunga yang terjadi sejak pertengahan 2022.

Kenaikan suku bunga akan membuat bank digital ikut menaikkan suku bunga pinjamannya agar dapat bersaing dengan bank konvensional dalam hal penghimpunan DPK dan pemberian kredit. Namun, di sisi lain hal ini dapat memberatkan kinerja perseroan karena beban bunga yang akan semakin besar.

Pergerakan saham bank digital umumnya sejalan dengan saham teknologi. Hingga awal Mei 2023 suku bunga Indonesia masih bertahan 5,75% di tengah The Fed telah menaikkan suku bunga pada awal Mei 2023. Hal ini dapat menjadi sentimen positif untuk pergerakan saham bank digital pada paruh kedua 2023.

Beberapa saham teknologi juga mulai menunjukan performa kinerja keuangan yang cukup baik efek dari efisiensi biaya termasuk mengurangi para pekerjanya.

Berdasarkan Survei Perbankan yang dirilis Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit pada 2023 diperkirakan mencapai 8,9%.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*